Selasa, 05 Februari 2013

Pentingnya Kesehatan Gigi Anak Pada Usia Dini

Pentingnya Kesehatan Gigi Anak Pada Usia Dini

E-mail Print PDF

Pengenalan dan perawatan kesehatan gigi secara dini adalah sangat penting, mengingat banyak anak dengan tingkat frekwensi karies atau lubang yang cukup tinggimasih banyak yang belum tertangani. Kelainan pada rongga mulut dapat dideteksi sedini mungkin sehingga dapat dilakukan suatu perawatan sederhana yang memungkinkan anak dapat menerima perawatan gigi. Pengenalan dan perawatan kesehatan gigi anak sejak dini merupakan sesuatu hal yang kadang-kadang menimbulkan rasa kekhawatiran pada setiap ibu. Para ibu mempunyai kekhawatiran bagaimana cara mempersiapkan pada saat kunjungan pertama untuk perawatan gigi. Dalam perawatan ke dokter gigi seharusnya anak sudah mulai dikenalkan kepada dokter gigi, perawat gigi dan lingkungan di sekitar ruang pemeriksaan gigi. Anak sudah bisa dikenalkan perawatan gigi pada usia 18 bulan dan dapat dilakukan perawatan pada usia 2-3 tahun dengan harapan kesehatan gigi dan mulut pada anak-anak bisa lebih terjaga dan termonitor. Selain itu para ibu juga merasakan kekhawatiran apabila telah melihat ada kelainan pada gigi anaknya. Rasa khawatir tersebut dapat ditanggulangi dengan cara mempersiapkan para ibu dalam mengambil langkah-langkah apa yang dapat dilakukan di dalam mengenalkan perawatan gigi pada anaknya serta menambah pengetahuan para ibu mengenai kelainan-kelainan pada gigi dan mulut anak yang sering ditemukan. Mulut merupakan pintu gerbang pertama di dalam sistem pencernaan. Makanan dan minuman akan diproses di dalam mulut dengan bantuan gigi-geligi, lidah, dan saliva. Pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu upaya meningkatkan kesehatan. Mulut bukan sekedar untuk pintu masuknya makanan dan minuman tetapi fungsi mulut lebih dari itu dan tidak banyak orang menyadari besarnya peranan mulut bagi kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Oleh karena itu kesehatan gigi dan mulut sangat berperan dalam mengurangi frekwensi karies gigi. Kecenderungan para ibu pada umumnya datang ke dokter gigi membawa anaknya pada kondisi sakit dan rewel sehingga akan menyulitkan dalam melakukan tindakan perawatan gigi.
Kunjungan pertama adalah hal yang paling penting untuk dilakukan karena pada umumnya kunjungan pertama pada umumnya anak lebih dapat menerima perawatan gigi. Dan seharusnya dalam kunjungan pertama ke dokter gigi anak harus selalu didampingi orang tua. Trauma perawatan sebelumnya akan lebih menyulitkan perawatan gigi lanjutan. Tugas utama dokter gigi anak adalah merubah pola prilaku anak yang pada awalnya takut akan perawatan gigi akan menjadi sesuatu hal yang menarik sehingga didapatkan kesehatan gigi yang optimal terutama pada anak.
Instruksi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut di rumah telah banyak disusun oleh para ahli. Program tersebut menekankan pada pencegahan terjadinya karies. Oleh karena masih banyak para orang tua yang beranggapan bahwa geligi susu hanya sementara dan akan diganti oleh geligi tetap sehingga mereka tidak memperhatikan mengenai kebersihan geligi susu. Penerapan instruksi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sebaiknya telah dimulai sejak bayi masih di dalam kandungan, sehingga orang tua akan lebih siap di dalam melakukan instruksi tersebut.
Peran serta orang tua sangat diperlukan di dalam membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan, dan menyediakan fasilitas kepada anak agar anak dapat memelihara kebersihan gigi dan mulutnya. Selain itu orang tua juga mempunyai peran yang cukup besar di dalam mencegah terjadinya akumulasi plak dan terjadinya karies pada anak. Pengetahuan orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya perilaku yang mendukung atau tidak mendukung kebersihan gigi dan mulut anak. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh secara alami maupun secara terencana yaitu melalui proses pendidikan. Orang tua dengan pengetahuan rendah mengenai kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor predisposisi dari perilaku yang tidak mendukung kesehatan gigi dan mulut anak. Proses pelaksanaan instruksi kebersihan gigi dan mulut membutuhkan serangkaian proses yang dapat dimulai dengan mengajarkan orangtua atau pengasuh. Teknik penerapan upaya ini sesuai dengan perkembangan kemampuan motorik dan kecerdasan anak. Berbagai sikap dan perilaku anak akan muncul pada saat dimulainya proses ini. Namun demikian anak akan mudah menyesuaikan apabila telah terjalin komunikasi yang interaktif antara anak dengan orang tua atau pengasuh. Prilaku merupakan suatu aktifitas manusia yang sangat mempengaruhi pola hidup yang akan dijalaninya. Proses pembentukan prilaku yang diharapkan memerlukan waktu serta kemampuan dari para orangtua di dalam mengajarkan anak. Oleh karena itu bila pola hidup yang dijalaninya merupakan pola hidup yang sehat maka perilaku yang akan diterapkan di dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut pun merupakan pola hidup yang sehat.
Oleh :
Sandy Christiono, drg., Sp. KGA.
Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Gigi UNISSULA

Disajikan pada Seminar Sehari Festival Gigi Sehat dan Senyum indah Minggu, 17 Juli 2011 di Gedung LT 2 RSISA Semarang

Perawatan Endodontik pada anak

Perawatan Endodontik pada anak

E-mail Print PDF
Tujuan dasar dari perawatan endodontik pada anak mirip dengan pasien dewasa, yaitu untuk meringankan rasa sakit dan mengontrol sepsis dari pulpa dan jaringan periapikal sekitarnya serta mengembalikan keadaan gigi yang sakit agar dapat diterima secara biologis oleh jaringan sekitarnya. Ini berarti bahwa tidak terdapat lagi simtom, dapat berfungsi dengan baik dan tidak ada tanda-tanda patologis yang lain. Faktor pertimbangan khusus diperlukan pada saat memutuskan rencana perawatan yang sesuai untuk gigi geligi sulung yaitu untuk mempertahankan panjang lengkung rahang 1,2. Banyaknya kunjungan pada anak sering sekali membuat pasien tidak kooperatif dan sering juga kesibukan oleh orang tua yang menyebabkan perawatan pada endo pada anak sering mengalami kegagalan. Kurangnya sarana prasarana terutama foto rontgen dalam praktek dokter gigi juga membuat penanganan endo pada sering mengalami kegagalan. 1 visit endo pada anak merupakan alternative suatu perawatan yang bisa dilakukan untuk mempersingkat waktu dan dilakukan seideal mungkin.

1.Pulpotomi
Pulpotomi adalah pembuangan pulpa vital dari kamar pulpa kemudian diikuti oleh penempatan obat di atas orifis yang akan menstimulasikan perbaikan atau memumifikasikan sisa jaringan pulpa vital di akar gigi6. Pulpotomi disebut juga pengangkatan sebagian jaringan pulpa. Biasanya jaringan pulpa di bagian korona yang cedera atau mengalami infeksi dibuang untuk mempertahankan vitalitas jaringan pulpa dalam saluran akar 1,3. Pulpotomi dapat dipilih sebagai perawatan pada kasus yang melibatkan kerusakan pulpa yang cukup serius namun belum saatnya gigi tersebut untuk dicabut, pulpotomi juga berguna untuk mempertahankan gigi tanpa menimbulkan simtomsimtom khususnya pada anak-anak14. Indikasi pulpotomi adalah anak yang kooperatif, anak dengan pengalaman buruk pada pencabutan, untuk merawat pulpa gigi sulung yang terbuka, merawat gigi yang apeks akar belum terbentuk sempurna, untuk gigi yang dapat direstorasi 1,4. Kontraindikasi pulpotomi adalah pasien yang tidak kooperatif, pasien dengan
penyakit jantung kongenital atau riwayat demam rematik, pasien dengan kesehatan umum yang buruk, gigi dengan abses akut, resorpsi akar internal dan eksternal yang patologis, kehilangan tulang pada apeks dan atau di daerah furkasi 4,5. Saat ini para dokter gigi banyak menggunakan formokresol untuk perawatan pulpotomi. Formokresol merupakan salah satu obat pilihan dalam perawatan pulpa gigi sulung dengan karies atau trauma. Obat ini diperkenalkan oleh Buckley pada tahun 1905 dan sejak saat itu telah digunakan sebagai obat untuk perawatan pulpa dengan tingkat keberhasilan yang tinggi 3,7. Beberapa tahun ini penggunaan formokresol sebagai pengganti kalsium hidroksida untuk perawatan pulpotomi pada gigi sulung semakin meningkat. Bahan aktif dari formokresol yaitu 19% formaldehid, 35% trikresol ditambah 15% gliserin dan air. Trikresol merupakan bahan aktif yang kuat dengan waktu kerja pendek dan sebagai bahan antiseptic untuk membunuh mikroorganisme pada pulpa gigi yang mengalami infeksi atau inflamasi sedangkan formaldehid berpotensi untuk memfiksasi jaringan 3,5,7.
Sweet mempelopori penggunaan formokresol untuk perawatan pulpotomi. Awalnya perawatan pulpotomi dengan formokresol ini dilakukan sebanyak empat kali kunjungan namun saat ini perawatan pulpotomi dengan formokresol dapat dilakukan untuk satu kali kunjungan7.
Beberapa studi telah dilakukan untuk membandingkan formokresol dengan kalsium hidroksida dan hasilnya memperlihatkan bahwa perawatan pulpotomi dengan formokresol pada gigi sulung menunjukkan tingkat keberhasilan yang lebih baik daripada penggunaan kalsium hidroksida. Formokresol tidak membentuk jembatan dentin tetapi akan membentuk suatu zona fiksasi dengan kedalaman yang bervariasi yang berkontak dengan jaringan vital. Zona ini bebas dari bakteri dan dapat berfungsi sebagai pencegah terhadap infiltrasi mikroba7. Keuntungan formokresol pada perawatan pulpa gigi sulung yang terkena karies yaitu formokresol akan merembes melalui pulpa dan bergabung dengan protein seluler untuk menguatkan jaringan. Penelitian-penelitian secara histologis dan histokimia menunjukkan bahwa pulpa yang terdekat dengan kamar pulpa menjadi terfiksasi lebih ke arah apikal sehingga jaringan yang lebih apikal dapat tetap vital. Jaringan pulpa yang terfiksasi kemudian dapat diganti oleh jaringan granulasi vital 4,8.
Perawatan pulpotomi formokresol hanya dianjurkan untuk gigi sulung saja, diindikasikan untuk gigi sulung yang pulpanya masih vital, gigi sulung yang pulpanya terbuka karena karies atau trauma pada waktu prosedur perawatan7.

1.1 Pulpotomi Vital
Langkah-langkah perawatan pulpotomi vital formokresol satu kali kunjungan untuk gigi sulung 4,5 :
  1. Siapkan instrumen dan bahan. Pemberian anestesi lokal untuk mengurangi rasa sakit saat perawatan
  2. Isolasi gigi.
    Pasang rubber dam, jika rubber dam tidak bisa digunakan isolasi dengan kapas dan saliva ejector dan jaga keberadaannya selama perawatan.
  3. Preparasi kavitas.
    Perluas bagian oklusal dari kavitas sepanjang seluruh permukaan oklusal untuk memberikan jalan masuk yang mudah ke kamar pulpa.
  4. Ekskavasi karies yang dalam.
  5. Buang atap pulpa.
    Dengan menggunakan bor fisur steril dengan handpiece berkecepatan rendah. Masukkan ke dalam bagian yang terbuka dan gerakan ke mesial dan distal seperlunya     untuk membuang atap kamar pulpa.
  6. Buang pulpa bagian korona.
    Hilangkan pulpa bagian korona dengan ekskavator besar atau dengan bor bundar kecepatan rendah.
  7. Cuci dan keringkan kamar pulpa.
    Semprot kamar pulpa dengan air atau saline steril, syringe disposible dan jarum steril. Penyemprotan akan mencuci debris dan sisa-sisa pulpa dari kamar pulpa. Keringkan dan kontrol perdarahan dengan kapas steril.
  8. Aplikasikan formokresol.
    Celupkan kapas kecil dalam larutan formokresol, buang kelebihannya dengan menyerapkan pada kapas dan tempatkan dalam kamar pulpa, menutupi pulpa bagian akar selama 4 sampai dengan 5 menit.
  9. Berikan bahan antiseptik.
    Siapkan pasta antiseptik dengan mencampur eugenol dan formokresol dalam bagian yang sama dengan zinc oxide. Keluarkan kapas yang mengandung formokresol dan berikan pasta secukupnya untuk menutupi pulpa di bagian akar. Serap pasta dengan kapas basah secara perlahan dalam tempatnya. Dressing antiseptik digunakan bila ada sisa-sisa infeksi.
  10. Restorasi gigi.
    Tempatkan semen dasar yang cepat mengeras sebelum menambal dengan amalgam atau penuhi dengan semen sebelum preparasi gigi untuk mahkota stainless steel.



    Gambar B. Langkah-langkah Perawatan Pulpotomi Vital Formokresol Satu Kali Kunjungan.1. Ekskavasi karies, 2. Buang atap kamar pulpa, 3. Buang pulpa di kamar pulpa dengan ekskavator, 4. Pemotongan pulpa di orifis dengan bor bundar kecepatan rendah, 5. Pemberian formokresol selama 5 menit, 6. Pengisian kamar pulpa dengan campuran zinc oxide dengan formokresol dan
    eugenol, 7. Gigi yang telah di restorasi6.
1.2 Pulpotomi Non Vital
Prinsip dasar perawatan endodontik gigi sulung dengan pulpa non vital adalah untuk mencegah sepsis dengan cara membuang jaringan pulpa non vital, menghilangkan proses infeksi dari pulpa dan jaringan periapikal, memfiksasi bakteri yang tersisa di saluran akar8. Perawatan endodontik untuk gigi sulung dengan pulpa non vital yaitu perawatan pulpotomi mortal (pulpotomi devital)4.
Pulpotomi mortal adalah teknik perawatan endodontik dengan cara mengamputasi pulpa nekrotik di kamar pulpa kemudian dilakukan sterilisasi dan penutupan saluran akar4.
Langkah-langkah perawatan pulpotomi devital4 :
Kunjungan pertama:
  1. Siapkan instrumen dan bahan.
  2. Isolasi gigi dengan rubber dam.
  3. Preparasi kavitas.
  4. Ekskavasi karies yang dalam.
  5. Buang atap kamar pulpa dengan bor fisur steril dengan handpiece kecepatan rendah.
  6. Buang pulpa di bagian korona dengan ekskavator besar atau dengan bor bundar.
  7. Cuci dan keringkan pulpa dengan air atau saline steril, syringe disposible dan jarum steril.
  8. Letakkan arsen atau euparal pada bagian terdalam dari kavitas.
  9. Tutup kavitas dengan tambalan sementara.
  10. Bila memakai arsen instruksikan pasien untuk kembali 1 sampai dengan 3 hari, sedangkan jika memakai euparal instruksikan pasien untuk kembali setelah 1 minggu
Kunjungan kedua :
  1. Isolasi gigi dengan rubber dam.
  2. Buang tambalan sementara.
    Lihat apakah pulpa masih vital atau sudah non vital. Bila masih vital lakukan lagi perawatan seperti pada kunjungan pertama, bila pulpa sudah non vital lakukan perawatan selanjutnya.
  3. Berikan bahan antiseptik.
    Tekan pasta antiseptik dengan kuat ke dalam saluran akar dengan cotton pellet.
  4. Aplikasi semen zinc oxide eugenol.
  5. Restorasi gigi dengan tambalan permanen.
DAFTAR PUSTAKA
1. Bence, R. 1990. Buku Pedoman Endodontik Klinik. Diterjemahkan dari Handbook of Clinical Endodontics oleh E. H. Sundoro. Jakarta : Penerbit UI.
2. Harty, F. J. 1993. Endodonti Klinis. Edisi Ketiga. Diterjemahkan dari Endodontics in Clinical Practice oleh L. Yuwono. Jakarta : Hipokrates.
3. Welbury, R. R. 2001. Paediatric Dentistry. 2nd edition. New York : Oxford UniversityPress.
4. Andlaw, R. J., dan W. P. Rock. 1993. A Manual of Paedodontics. 3rd edition. New York : Churchill Livingstone.
5. Kennedy, D. B. 1992. Konservasi Gigi Anak. Diterjemahkan dari Paediatric Operative Dentistry oleh N. Sumawinata dan S. H. Sumartono. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
6. Curzon, M. E. J., J. F. Roberts., dan D. B. Kennedy. 1996. Kennedy’s Paediatric Operative Dentistry. 4th edition. London : Wright.
7. Finn, S. B. 2003. Clinical Pedodontics. 4th edition. Philadelphia : W. B. Saunders.
8. Mathewson, R. J., dan R. E. Primosch. 1995. Fundamentals of Pediatric Dentistry;. 3rd edition. Chicago : Quintessence Publishing.

Oleh : Drg Sandy Christiono SpKGA
Staf Pengajar FKG UNISSULA

Orang Tua Berperan Jaga Kesehatan Gigi Anak

Orang Tua Berperan Jaga Kesehatan Gigi Anak

E-mail Print PDF

Peran serta orang tua sangat penting dalam kesehatan gigi anak, mengingat pada anak-anak banyak sekali didapatkan gigi berlubang atau karies gigi. Orang tua diperlukan di dalam membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan, dan menyediakan fasilitas kepada anak agar anak dapat memelihara kebersihan gigi dan mulutnya. Selain itu orang tua juga mempunyai peran yang cukup besar di dalam mencegah terjadinya akumulasi plak dan terjadinya karies pada anak.
Pengetahuan orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya perilaku yang mendukung atau tidak mendukung kebersihan gigi dan mulut anak. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh secara alami maupun secara terencana yaitu melalui proses pendidikan. Orang tua dengan pengetahuan rendah mengenai kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor predisposisi dari perilaku yang tidak mendukung kesehatan gigi dan mulut anak. Proses pelaksanaan instruksi kebersihan gigi dan mulut membutuhkan serangkaian proses yang dapat dimulai dengan mengajarkan orangtua atau pengasuh. Teknik penerapan upaya ini sesuai dengan perkembangan kemampuan motorik dan kecerdasan anak. Berbagai sikap dan perilaku anak akan muncul pada saat dimulainya proses ini. Namun demikian anak akan mudah menyesuaikan apabila telah terjalin komunikasi yang interaktif antara anak dengan orang tua atau pengasuh. Prilaku merupakan suatu aktifitas manusia yang sangat mempengaruhi pola hidup yang akan dijalaninya. Proses pembentukan prilaku yang diharapkan memerlukan waktu serta kemampuan dari para orangtua di dalam mengajarkan anak. Oleh karena itu bila pola hidup yang dijalaninya merupakan pola hidup yang sehat maka perilaku yang akan diterapkan di dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut pun merupakan pola hidup yang sehat.
Pengabaian secara disengaja tentang kesehatan gigi anak banyak ditemui di masyarakat, orang tua secara sadar mengabaikan kesehatan gigi anak, karena orang tua berfikir bahwa gigi anak akan berganti dengan gigi dewasa sehingga jika rusakpun orang tua akan mengabaikannya. Efek dari pengabaian orang tua terhadap kesehatan gigi anak berdampak cukup besar mulai anak sering mengeluhkan giginya sakit, susah makan bahkan memicu terjadinya suatu infeksi gigi. Infeksi gigi bisa seperti sakit cekot-cekot dan bengkak. Gigi yang sering sakit terutama pada anak akan menyebabkan fungsi makan, bicara tidak bisa maksimal, selain itu fungsi gigi sulung yang tidak kalah penting adalah mempertahankan panjang lengkung gigi yang diharapkan dengan panjang lengkung yang terjaga gigi permanen/dewasa bisa menempati posisi yang baik dan rapi.

Oleh :Sandy Christiono, drg., Sp. KGA.
Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Gigi UNISSULA

Disajikan pada Talk show sehari 21 november 2011, di ADA Siliwangi, Semarang

PENATALAKSANAAN TRAUMA DENTAL PADA GIGI SULUNG

PENATALAKSANAAN TRAUMA DENTAL PADA GIGI SULUNG

E-mail Print PDF
PENATALAKSANAAN TRAUMA DENTAL PADA GIGI SULUNG
Disajikan dalam acara PDGI 12 januari 2012
Aula RS Panti Wilasa Citarum

*Drg Sandy Christiono, SpKGA
**Drg Dyah Perwitasari, SpKGA
*Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Gigi UNISSULA Semarang
** Klinik Gigi dan Dewasa Nadira Semarang

Penelitian di Negara Denmark menunjukkan bahwa 30 % dari anak-anak mengalami trauma pada gigi sulung/sulung dan 22% pada gigi permanen. Insidensi tertinggi pada gigi sulung pada anak usia 1-3 tahun. Dan pada usia 8-11 tahun pada gigi permanen. Laki-laki lebih banyak terjadi trauma dental dibandingkan perempuan. Trauma gigi biasanya mengenai 1 atau 2 gigi dari gigi-gigi anterior, dan terutama incisive pertama antererior RA 1. Akibat paling sering dari trauma adalah goyangnya gigi (dengan atau tanpa pergeseran gigi), intrusi dan avulse; fraktur mahkota dan akar jarang ditemukan 2
Etiologi dari trauma dental adalah banyaknya anak yang belajar berjalan dan berlari dimana koordinasi otot dan keseimbangan yang belum berkembang secara baik. Trauma pada orofasial area kemungkinan oleh karena physical Abuse. Study di Norwegia menunjukkan bahwa anak usia 7 sampai 18 tahun, 48% dari dental trauma didapatkan pada jam sekolah dan 52% persen didapatkan pada waktu luang/dirumah. Pada waktu luang trauma terjadi pada waktu anak sedang bermain. 10% terjadi di jalan-jalan raya dan 50% terjadi ketika sedang bermain sepeda. Dan 8% kecelakan terjadi pada olah raga1,3. Factor-faktor predisposisi yang menyebabkan adanya truma pada gigi anak adalah class II divisi 1, overjet 3-6 mm, overjet 6 mm. dari 2500 anak yang mengalami trauma 52 % → Konservasi Gigi 37 % dirawat Endodontic, 41 % dirawat Crown dan Bridge 17 % Tidak dirawat. 3
Dental trauma biasanya mendapatkan asuransi kecelakaan, riwayat dan pemeriksaan klinis wajib dilakukan, dan jika memungkinkan dilakukan Foto . Rekam medis tentang riwayat kecelakan dapat menentukan:  a)status dari gigi-gigi, b) prognosa, 3)kompilkasi medis, 4)kemungkinan proses pengadilan. Pertanyaan yang ditanyakan meliputi:
  1. Kapan kecelakaan tersebut terjadi
  2. Dimana terjadinya kecelakaan
  3. Bagamaimana kronologi kejadiaanya
  4. Adakah gejala lain yang timbul
  5. Adakah gigi yang hilang
  6. Apakah pemberian imunisasi up yo date. 4
Pemeriksaan fisik harus segera dilakukan terutama daerah yang terkena trauma, berhati-hati terhadap pembersihan debris pada daerah luka. Jika trauma terjadi fraktur gigi struktur gigi perlu diperhatikan dan ada tidaknya pulpa yang terbuka. Keretakan pada struktur gigi dapat dilihat dengan menggunakan transilumination. Tes vitalitas dilakukan untuk mengetahui vitalitas dari pulpa. Diagnosis trauma tidak dapat ditegakkan tanpa pemeriksaan radiografi pada gigi yang mengalami trauma. Dengan pemeriksaan radiografi dapat menunjukkan adanya frakture pada gigi yang terkena trauma. 3,5
Jika anak belum diimunisasi, dapat dilakukan injeksi intamuskular dengan menggunakan tetanus toxoid 0,5 ml. hal tersebut digunakan sebelum penanganan pada kasus luksasi gigi:. Penggunaan antibiotic tidak diperlukan jika tidak kerjadi trauma pada jaringan lunak dan jaringan dento alveolar. Antibiotic digunakan untuk pencegah adanya infeksi bukan sebagai pengganti  debridement dari luka. Penggunaan obat-obatan mengacu pada berat badan anak. Management luksasi, concussion dan subluxation adalah radiografi periapikal, makan minum makan lunak selama 1-2 minggu, memberitahu orang tua kemungkinan akan kelanjutan dari gejalanya seperti nekrosis pulpa dan serta dilakukan follow up adanya gejala yang timbul.3,5
Management dari intrusive luksasi adalah jika mahkota gigi masih terlihat dan tidak terdapat kerusakan dari tulang alveolar biarkan gigi tersebut untuk erupsi, dan jika gigi terlalu intrusi lakukan pencabutan segera. Gigi intrusi biasanya tidak memerlukan suatu perawatan karena gigi akan dapat erupsi kembali dalam 6 bulan.  Management gigi avulsi: avulse dari gigi sulung tidak perlu di replantasi oleh karena replantasi dari gigi avulsi dari gigi sulung dapat menekan darah pada soket dan dari akar sendiri yang dapat menggangu perkembangan dari gigi permanen itu sendiri selain itu pada anak cukup sulit untuk dilakukan. Splinting dari gigi sulung cukup sulit untuk dilakukan, tetapi bukannya tidak mungkin. Perbaikan jaringan periodontium pada anak cukup bagus.4,5
Bila terjadi fraktur mahkota, prinsip-prinsip yang sama harus dilakukan seperti pada perawatan-perawatan gigi tetap. Akan tetapi, bila kooperatif pasien buruk, fraktur gigi yang mengenai dentin dapat tidak diberikan perawatan dan hanya dilakukan pengamatan. Banyak fraktur mahkota mengenai pulpa, dan dalam kasus-kasus ini gigi harus dicabut, terutama jika pasien tidak menginginkan dilakukan perawatan pulpa sebagai mana mestinya. Gigi-gigi dengan fraktur akar sepertiga apikal atau sepertiga tengah jarang ditemukan, dan dapat dilakukan pengamatan, tetapi gigi-gigi dengan fraktur sepertiga koronal harus dicabut.3,5
Walaupaun gigi insisve sulung yang mengalami trauma harus dipertahankan, aspek paling serius dari trauma pada gigi incisive sulung adalah kerusakan yang dapat terjadi pada gigi-gigi tetap penggantinya yang akan berkembang kearah palatal dari akar-akar gigi sulung. Tipe kerusakan yang paling umum adalah hipoplasia dan hipomineralisasi yang berat yang diderita anak usia 3 atau 4 tahun.2,5
Sangat penting mendiskusikan dengan orang tua perkembangan lebih lanjut dari luksasi dan avulse gigi sulung. Meskipun sulit untuk memprediksi prognosis dari gigi permanentnya. Kemungkinan-kemungkanan terburuk harus dijelaskan. Perkembangan gigi permanen tergantung pada a) arah dan displasment dari akar gigi sulung, tingkat keparahan dari tulang alveolar, stage formation dari gigi gigi permanen. Kemungkinan kerusakan pada gigi sulung dan permanen adalah nekrosis dari pulpa gigi sulung dengan diskolorisasi dan kemungkinan abses, resobsi internal gigi sulung, ankilosis gigi sulung, hipoplasia.2,3
Referensi
  1. Goran korch & Sven Paulsen.2001 Pediatric dentistry – a clinical approach, page
  2. Andlaw, R. J., dan W. P. Rock. 1993. A Manual of Paedodontics. 3rd edition. New York : Churchill Livingstone.
  3. Mc Donal, R. And Avery, D. R. 2004. Dentistry for the child and Aldolescent. 8 th ed St Louis, Mosby Years Book, Inc,
  4. Angus c Cameron & Richard P Widmer. 2003.handbook of pediatric dentistry. P.87-137
  5. Guideline on management of acute dental trauma

Rampant caries pada gigi sulung,berbahayakah?

Rampant caries pada gigi Sulung, Berbahayakah?

E-mail Print PDF

Fenomena gigi anak yang rusak pada usia pra sekolah sudah banyak kita temukan di sekitar kita, selain itu banyak orang tua mengeluhkan gigi anaknya cepat rusak dan khawatir jika gigi anaknya akan menyebabkan rasa sakit dikemudian hari. Hampir 20 persen populasi anak dunia mengalami rampant karies, di beberapa negara rampant karies menyerang tidak hanya pada sosio ekonomi rendah, sosio ekonomi tinggi juga mempunyai resiko yang tinggi pula. “Apa sebenarnya rampant karies itu” rampant karies adalah suatu karies gigi yang parah dimana bisa terdapat pada gigi susu atau gigi permanen dengan karakteristiknya kerusakan yang cepat yang dapat merusak mahkota gigi dengan pola yang terkena adalah gigi depan rahang atas. Penampakan secara kasat mata gigi terlihat  coklat atau hitam. “ apa yang menyebabkan rampant karies” rampant karies banyak dihubungkan dengan pola menyusui pada anak serta dari pola asuh yang tidak mengkontrol penggunaan botol susu yang digunakan pada malam hari agar anak bisa tidur. Bahkan yang menggunakan ASI juga bisa terkena rampant karies jika dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan dengan frekwensi yang sangat tinggi.
Seberapa berbahayakah rampant karies. Rampant karies jika dibiarkan dalam jangka waktu lama akan menyebabkan adanya rasa sakit yang terus menerus, rasa sakit ini akan mengurangi dari pola makan karena anak akan merasa kesulitan dan merasa sakit pada saat makan. Jika berlangsung terus menerus kebutuhan nutrisi anak akan semakin berkurang yang akan mengganggu pertumbuhkembangan anak.
Bagaimanakah pencegahan terhadap rampant karies pada penggunaan susu dan air minum
  • Mengatur pola makan anak dan meminum susu dengan waktu yang singkat
  • Jangan biarkan anak minum tanpa diawasi oleh orang tua
  • Usahakan menggunakan gelas daripada botol susu
  • Jangan gunakan botol susu untuk waktu tidur.
  • Kontrol ke dokter gigi tiap 6 bulan untuk mengkontrol kondisi gigi anak.

Oleh : drg Sandy Christiono SpKGA
Disajikan di paragon mall

Management Pencabutan Gigi Anak

Management Pencabutan Gigi Anak

E-mail Print PDF
Kita setuju bahwa salah satu hal penting untuk management prilaku pada anak adalah bagaimana kita dapat mengkontrol rasa sakit terutama pada saat pencabutan gigi anak. Perlunya kunjungan berulang pada anak ternyata dapat mengurangi ketidaknyamanan pada saat dilakukan pencabutan gigi. Dalam hal mengurangi ketidaknyamanan dapat dilakukan dengan  penggunaan topical aplikasi sebelum dilakukan pencabutan gigi. Sediaan Topical aplikasi bisa terbuat dari gel, liquid, ointment dan spray, tetapi pada prakteknya banyak dokter gigi yang lebih menggunakan topical aplikasi gel, liquid, ointment karena sifatnya yang short acting.
Pencabutan gigi anak bisa dimulai dengan terlebih dahulu menggunakan metode pendekatan baik itu metode tell sho do, metode distraction, metode modeling DLL. Penggunaan metode tidaklah sama diterapkan pada masing-masing  anak. Beberapa anak cocok untuk metode tell show do dan metode modeling tetapi yang lain tidak, factor kematangan EQ dan IQ juga berpengaruh.  Penggunaan kat “sakit” perlu kita tekannkan pada anak, karena rasa sakit lebih bisa diterima oleh anak dibandingkan dengan anak tersugesti bahwa cabut gigi tidak sakit.
Pengalaman cabut pada anak-anak terutama pada kunjungan pertama sangatlah penting, mengingat kunjungan pertama kita bisa merubah persepsi anak dari yang tidak kooperatif menjadi kooperatif dan yang takut terhadap perawatan dokter gigi akan menjadi tidak takut lagi. Sangat memprihatinkan jika dokter gigi pada kunjungan pertama memberikan efek rasa sakit yang berlebihan sehingga membuat anak tidak bisa menyelesaikan dalam perawatan gigi,  yang akibatnya berbagai macam keluhan timbul dan tidak bisa untuk dilakukan suatu tindakan.
Metode pencabutan dalam mengurangi rasa sakit bermacam, yang paling penting adalah teknik anestesi. Prinsip  anetesi tidak jauh berbeda dengan teknik anestesi pada orang dewasa, tetapi pada anak-anak terdapat sedikit modifikasi pada waktu injeksi ke jaringan. Dalam mengurangi rasa sakit teknik injeksi difokuskan pada daerah labial dan dilanjutkan ke palatal/lingual dengan melaui interdental. Penggunaaan citoject dapat  digunakan karena penetrasi ke jaringan sangat kecil sehingga trauma jaringan dapat dikurangi yang akibatnya dapat mengurangi rasa sakit pada waktu prosedur anaestesi.
Management rasa sakit pada anak sangatlah penting terutama pada saat pencabutan gigi, dengan management yang bagus akan didapatkan hasil yang optimal sehingga anak akan memperoleh perawatan yang optimal dengan sedikit trauma. Penguasaan metode pendekatan pada anak dan prosedur anestesi serta teknik pencabutan juga memegang peranan penting untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Oleh : Drg sandy christiono SpKGA
Staf Pengajar FKG UNISSULA-Semarang
* Diambil dari berbagai macam Sumber